Barang siapa yang pernah kuliah di jogja...dan agak pengen tahu budaya jawa...orang muda...25 % mungkin kenal dengan ki Hadi sugito. sosok dalang yang jadi idola anak muda. Hampir setiap malam beliau (dulu...ndak tahu sekarang), ajeg 'ditanggap' di radio radio sekitaran jogja. Ditanggap dalam artian sebenar-benarnya. Dulu, kalo orang punya hajat, dan kebetulan punya banyak duwit, maka sebuah kebanggaan untuk bisa nanggap wayang (lengkap dengan dalang dan gamelannya tentu saja). Tentu juga berkaitan denga dana yang tidak sedikit. Dalang kondang sekelas ki Mantep jelas mengeruk kocek sekitar 75 juta. tarif dalang yang lain juga bervariasi.
nah...dijaman yang serba irit, bagi yang punya hajat tidak harus menghadirkan Wayang sekotak, gamelan sepangkon, warangono, wiyogo dan laen-laen. Cukup datang ke sebuah stasiun radio (GCD FM misalnya). Pesan lakon, dalang, tentukan waktu,pentas, (tentunya yang ada dalam koleksi pihak radio), mbayar,dan......sim salabim....nama yang punya hajat, hajatnya, alamat, akan disampaikan disela-sela cerita wayang oleh narator dengan gaya MC jawa dengan santun.
Ki hadi sugito adalah salah satu dalang yang laris ditanggap di radio. alasanya mungkin karena beliau ndagel. bagi saya itu juga salah satu alasan , namun yang lebih yahud ..adalah ontowecono ki hadi sugito yang sangat piawai membagi suara dalam intonasi dan warna suara yang beda.
sayang..beliau sudah 'ditanggap' sama Yang Maha Kuasa pada bulan januari 2008. Selamat jalan Pak gito
Kamis, 14 Agustus 2008
Senin, 02 Juni 2008
nama
saya mulai dengan sebuah prolog:
setelah hampir 15 tahun tidak ketemu, baik secara sendirian maupun kolektif, baik fis to fis (istilah thukul di 4 mata), maupun dengan cara yang paling umum : surat, email...maupun telpon, saya berhasil melakukan interaksi dengan tidak terduga dengan teman lama SMU. Perempuan, kerja di Bank nasional, Jakarta. Intinya: setelah mendapat no HPnya saya selaku pria sejati menelpon duluan :
ada kaget, seneng, ephoria...
lalu tukar informasi (biasa) tentang gacoan masing-masing, kerja dimana, anak berapa, sampai masalah nama anak : Anaku sulung laki laki 5 tahun dengan nama SANG SAKA ADITYA, yang no 2 SANG GALIH PURUHITO 3 tahun. Sambil cengengesan komentarnya tak terduga : nama anakmu kok nggak mengglobal ...!!!!
lama setelah percakapan usai saya tercenung. mencoba mencari makna apa dengan kata nama yang tidak global. Kata kunci : nama dan global.
Coba anda ingat nama anda sendiri. Atau teman-teman, saudara, bapak anda, embah, mbah buyut, pakde...bulik. tante, om, abah, aa, Abang, Ito...apakah juga dengan kesadaran mengglobal ?
Nama saya : Riswanto Agung Sedayu. bagi anda yang suka cerita silat dan anda kebetulan tinggal di Jawa tengah (Jogja) tentu tahu bahwa Nama AGUNG SEDAYU adalah salah satu tokoh di serial Api di Bukit Menoreh karya Alm. SH. Mintardja. Bapak saya sangat menggemari cerita itu dan tanpa ijin mencomot buat saya anaknya yang lahir di awal cerita itu dimulai dan mungkin sudah menjadi legenda di jogja.... bapak saya tentu tidak berusaha memberi nama yang global (menurut temen saya tadi), tapi itulah kultur yang melingkupi bapak saya.
Saya jadi mengamati dengan kaca mata saya sendiri. Penamaan anak ternyata memiliki trend sendiri. Pada saat budaya barat masuk dengan leluasa...nama anak menjadi lebih berbau barat.
Jadi tidak aneh kalo babaknya bernama Joko (asli Jawa tengah sragen) dan Ibunya bernama Dewi ( asli ponorogo), kemudian punya nama anak namanya Aurel, Michel, Debora.....
kemudian setelah kehidupan beragama (islam) mulai semarak di kalangan kelas menengah , nama berbau arab mulai marak : Zidan, Ghifar, Nahl, Afya, Nafya.....
( nama model Muhammad, ismail, Ibrahim..dll, agak kurang laku di kalangan menengah kayaknya).
Menarik juga bahwa orang hongkong juga punya nama Internasioanl : Jacky Chen, Michael chang, Victoria Tang....
jadi ...nama tak lagi menjadi sederhana, seperti kata sastrawan inggris bilang.
Kata kunci yang kedua : Global. Global menjadi kata lain dari : Barat. bahwa yang barat itu lebih global. Bahwa usul asal global emang dari barat (Eropa..amerika). Mc Donald lebih global dari pada ayam goreng suharti, gudeg kalah pamor dengan Kentang goreng, wayang kalah sama film layar tancep.
jadi nama anak juga perlu diglobalkan juga kayaknya, biar nanti kalo kenalan dengan orang bule dianggap agak global; My name is Michel Joko Widayat....thank you !!!
setelah hampir 15 tahun tidak ketemu, baik secara sendirian maupun kolektif, baik fis to fis (istilah thukul di 4 mata), maupun dengan cara yang paling umum : surat, email...maupun telpon, saya berhasil melakukan interaksi dengan tidak terduga dengan teman lama SMU. Perempuan, kerja di Bank nasional, Jakarta. Intinya: setelah mendapat no HPnya saya selaku pria sejati menelpon duluan :
ada kaget, seneng, ephoria...
lalu tukar informasi (biasa) tentang gacoan masing-masing, kerja dimana, anak berapa, sampai masalah nama anak : Anaku sulung laki laki 5 tahun dengan nama SANG SAKA ADITYA, yang no 2 SANG GALIH PURUHITO 3 tahun. Sambil cengengesan komentarnya tak terduga : nama anakmu kok nggak mengglobal ...!!!!
lama setelah percakapan usai saya tercenung. mencoba mencari makna apa dengan kata nama yang tidak global. Kata kunci : nama dan global.
Coba anda ingat nama anda sendiri. Atau teman-teman, saudara, bapak anda, embah, mbah buyut, pakde...bulik. tante, om, abah, aa, Abang, Ito...apakah juga dengan kesadaran mengglobal ?
Nama saya : Riswanto Agung Sedayu. bagi anda yang suka cerita silat dan anda kebetulan tinggal di Jawa tengah (Jogja) tentu tahu bahwa Nama AGUNG SEDAYU adalah salah satu tokoh di serial Api di Bukit Menoreh karya Alm. SH. Mintardja. Bapak saya sangat menggemari cerita itu dan tanpa ijin mencomot buat saya anaknya yang lahir di awal cerita itu dimulai dan mungkin sudah menjadi legenda di jogja.... bapak saya tentu tidak berusaha memberi nama yang global (menurut temen saya tadi), tapi itulah kultur yang melingkupi bapak saya.
Saya jadi mengamati dengan kaca mata saya sendiri. Penamaan anak ternyata memiliki trend sendiri. Pada saat budaya barat masuk dengan leluasa...nama anak menjadi lebih berbau barat.
Jadi tidak aneh kalo babaknya bernama Joko (asli Jawa tengah sragen) dan Ibunya bernama Dewi ( asli ponorogo), kemudian punya nama anak namanya Aurel, Michel, Debora.....
kemudian setelah kehidupan beragama (islam) mulai semarak di kalangan kelas menengah , nama berbau arab mulai marak : Zidan, Ghifar, Nahl, Afya, Nafya.....
( nama model Muhammad, ismail, Ibrahim..dll, agak kurang laku di kalangan menengah kayaknya).
Menarik juga bahwa orang hongkong juga punya nama Internasioanl : Jacky Chen, Michael chang, Victoria Tang....
jadi ...nama tak lagi menjadi sederhana, seperti kata sastrawan inggris bilang.
Kata kunci yang kedua : Global. Global menjadi kata lain dari : Barat. bahwa yang barat itu lebih global. Bahwa usul asal global emang dari barat (Eropa..amerika). Mc Donald lebih global dari pada ayam goreng suharti, gudeg kalah pamor dengan Kentang goreng, wayang kalah sama film layar tancep.
jadi nama anak juga perlu diglobalkan juga kayaknya, biar nanti kalo kenalan dengan orang bule dianggap agak global; My name is Michel Joko Widayat....thank you !!!
kerja juga
DED The King's Residence (apartemen sewa 9 lantai) . Koordinasi dengan PT. Kinarya Rekayasa untuk desain struktur bangunan. Koordinasi dengan Almatra Buana untuk konsultan FS. Segera karena pekerjaan Pilling sudah akan dimulai.
yookk...garap!!
yookk...garap!!
kerja
persiapan dokumen ustek proyek DED Community Centre Kota Batam dan DED Balai Kota Batam. Pengumpulan dokumen 13 Juni 2008.
yook....garap !!!
yook....garap !!!
Minggu, 01 Juni 2008
sesaat mendekap
sore tadi. anaku sulung...SANG SAKA ADITYA dengan tubuh kurusnya yang susah makan...dengan hobby maen game nya...bangun tidur dengan pipi masih membekas sarung bantal. Langkahnya agak fly...(nyawane rung kebak..istilah orang jawa). langsung ia menyerbu sofa depan tv. Matanya agak sayu menatap layar Tv yang sedang aku tonton. Adiknya SANG GALIH PURUHITO masih ngorok dengan bibir terbuka ..di kamar
lama aku pandang si sulung. Hmm....rambutnya adalah fotokopi rambutku yang ikal keriting....tipikal orang ngeyel kata primbon. Tiba-tiba entah ada ilham dari mana...aku pengen menggendong anaku itu. tanpa alasan. Di usianya yang 5 tahun 2 bulan..tentunya ritual gendong sudah sangat berkurang. Apalagi dengan nafsu maennya yang cukup menguras energi....bersekutu dengan adiknya yang ber unyeng-unyeng 3 .
Aku bangun...aku berdiri di depannya. Matanya menatapku dengan pertanyaan tanpa kata. Kuulurkan kedua tanganku...memintanya masuk dalam gendonganku. Mulutnyamenyunggingkan senyum dibarengi lompatanya ringan ke tanganku. Kucium pipinya yang masih bau iler. Kuambil sandal dan ku gendong dia keliling komplek rumahku yang ...astaga cukup lama aku tak melihatnya lagi.
Kulewatkan ke berbagai rumah dengan rumput yang mulai tinggi . Kosong. Terlalu banyak orang kaya dan kelebihan duit menimbun property dan imsonia dengan banyak warga bangsa yang tidak punya rumah.
Ritual gendong ini mengingatkan aku pada ayahku. Ia suka menggedongku keliling kampung atau minimal ke pojok kampung sebagai hadiah aku mandi sore tanpa tangis.
Anakku , dalam gendonganku, sembari ngoceh tanya kanan kiri berbagai macam hal, sebagai refleksi rasa ingin tahunya yang besar.
Tahukah kamu, anaku, ritus gendong dengan dekapan dan gojegan ....adalah oase bagi ayahmu ini yang penat menanggung pikiran dan hidup...
lama aku pandang si sulung. Hmm....rambutnya adalah fotokopi rambutku yang ikal keriting....tipikal orang ngeyel kata primbon. Tiba-tiba entah ada ilham dari mana...aku pengen menggendong anaku itu. tanpa alasan. Di usianya yang 5 tahun 2 bulan..tentunya ritual gendong sudah sangat berkurang. Apalagi dengan nafsu maennya yang cukup menguras energi....bersekutu dengan adiknya yang ber unyeng-unyeng 3 .
Aku bangun...aku berdiri di depannya. Matanya menatapku dengan pertanyaan tanpa kata. Kuulurkan kedua tanganku...memintanya masuk dalam gendonganku. Mulutnyamenyunggingkan senyum dibarengi lompatanya ringan ke tanganku. Kucium pipinya yang masih bau iler. Kuambil sandal dan ku gendong dia keliling komplek rumahku yang ...astaga cukup lama aku tak melihatnya lagi.
Kulewatkan ke berbagai rumah dengan rumput yang mulai tinggi . Kosong. Terlalu banyak orang kaya dan kelebihan duit menimbun property dan imsonia dengan banyak warga bangsa yang tidak punya rumah.
Ritual gendong ini mengingatkan aku pada ayahku. Ia suka menggedongku keliling kampung atau minimal ke pojok kampung sebagai hadiah aku mandi sore tanpa tangis.
Anakku , dalam gendonganku, sembari ngoceh tanya kanan kiri berbagai macam hal, sebagai refleksi rasa ingin tahunya yang besar.
Tahukah kamu, anaku, ritus gendong dengan dekapan dan gojegan ....adalah oase bagi ayahmu ini yang penat menanggung pikiran dan hidup...
keputusan
hari ini , minggu, 1 juni 2008, jam 18.25. resmi aku menang atas rasa wegah, malas, menunda, cari-cari alasan dengan akal sesat, untuk mulai menulis. Meski roy suryo menyepelekan blog namun itu urusan laki-laki sok pakar IT yang lebih suka melototin gambar smokelan.
tak apa-apa, biar norak tidak apa-apa.
apakah yang harus ditulis, mulai dari mana, format, biarlah nanti membentuk hakikinya sendiri. Biarlah sang waktu menunjukan bahwa dia berkuasa...
sebagai seorang administrator yang buruk...sudah banyak tulisanku yang tak tahu kemana. Kualitas? Entah ! ada pusisi, cerpen...sketsa, kartun, opini, umpatan, guyonan, mimpi, angan, ...
umurku sudah 37 tahun. bukan waktu yang pendek.
tapi apa salahnya memulai setapak kecil?
tak apa-apa, biar norak tidak apa-apa.
apakah yang harus ditulis, mulai dari mana, format, biarlah nanti membentuk hakikinya sendiri. Biarlah sang waktu menunjukan bahwa dia berkuasa...
sebagai seorang administrator yang buruk...sudah banyak tulisanku yang tak tahu kemana. Kualitas? Entah ! ada pusisi, cerpen...sketsa, kartun, opini, umpatan, guyonan, mimpi, angan, ...
umurku sudah 37 tahun. bukan waktu yang pendek.
tapi apa salahnya memulai setapak kecil?
Langganan:
Komentar (Atom)